Koneksi Antar Materi 2.2.a.9
CGP_Denpasar_ Kadek Yuliantari
Pembelajaran sosial emosional
Mengapa
pembelajaran sosial emosional sangat penting? Jika kita kembali lihat
kebelakang sistem pendidikan kita di Indonesia setelah merdeka tidak mengalami
banyak perubahan bisa dikatakan masih jalan ditempat, guru hanya mengajar siswa
hanya mengisi otak siswa dengan pembelajaran berupa hapalan untuk mengejar
nilai bagus. Sekolah mentarget nilai ujian sekolah yang tinggi dengan
mengunakan berbagai cara yang untuk sebuah gengsi. Bisa kita lihat apa yang
terjadi dengan generasi muda kita sangat mudah untuk terasut dengan pergaulan
yang kurang baik, ikut-ikutan tawuran, ikut dalam aksi demo dan melakukan
pengerukakan, meningkatnya kehamilan pada usia remaja. Mengapa ini bisa
terjadi? Ini terjadi karena kurangnya pemahaman kita sebagai guru dan orang tua
akan pentingnya pendidikan sosial emosional yang harus kita tanamkan pada anak
kita sejak dini.
Pembelajaran
sosial emosional adalah proses pembelajaran untuk belajar mengelola emosi,
peduli dengan sesama, mengenali emosi yang dialami, membuat sebuah keputusan
yang baik, berprilaku yang baik dan bertanggung jawab, serta mengembangkan
prilaku yang positif. Pembelajaran sosial emosional memiliki peranan yang
sangatlah penting dalam membentuk karakter seseorang. Pembelajaran sosial
emosional sangat penting untuk diterapkan oleh seorang guru dalam mendidik
siswa karena guru yang harus memiliki kesadaran penuh untuk bisa memahami
dirinya, mengatur emosi, memiliki rasa empati, memiliki kemampuan berinteraksi
sosial dan berani mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran
sosial emosional juga memiliki fungsi untuk mengajarkan anak-anak
ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan anak untuk menjadi pribadi atau
individu yang sadar akan dirinya sendiri dan sadar terhadap lingkungan sosial
disekitarnya dan mampu melatih siswa mampu membuat keputusan yang kopeten dan
bertangung jawab.
Lima
komponen pembelajaran sosial emosional antara lain
1. 1. Kesadaran Diri (Pengenalan Emosi)
2. 2. Pengelolaan Diri (Pengolahan Emosi dan Fokus)
3. 3. Kesadaran Sosial (Empati)
4. 4. Ketrampilan Sosial (Resiliensi)
5. 5. Pengambilan Keputusan yang bertangung Jawab
Hubungan pembelajaran sosial emosional dengaan pembelajaran sebelunya, dimana pembelajaran sosial emosional puncak atau hasil yang diharapkan dalam pembelajaran sosial emosional ini yaitu wellbeing yaitu konmdisi nyaman , sehat dan kebahagian. Sedangkan Kihajar Dewantara menyatakan bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat”. Jadi bisa dikatakan keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mencapai kebahagiaan agar tercipta generasi yang berkarakter dan menjadi manusia yang seutuhnya (Human Excellent) yang mana kesadaran penuh yang menjadi dasar atau sebuah tuntunan untuk membangun diri. Sebagai manusia kita beralar untuk mengenal emosi dan megelola emosi, memiliki kesadaran sosial (empati) didalam lingkungan masyarakat , bisa mengelola dan menyelesaikian permasalahan yang dihadapi, berani mengambil keputusan yang bertangung jawab dalam kehidupan dan siap menghadapi tantangan dimasa mendatang.
Pendidikan harus seimbang antara pengetahuan dan spiritual
yang dimiliki siswa bagaikan burung yang dapat terbang hanya dengan kedua
sayapnya. Begitu juga dalam dunia pendidikan saat ini kita bagaikan membangun
sebuah rumah yang mana dasarnya adalah sebuah tuntunan berkedasaran penuh yang
harus kokoh, jendela, pintu, tembok, pentilasi, kunci adalah lima komponen
pembelajaran sosial emosional dan kodrat anak. Atapnya adalah wellbeing,
keselamatan dan kebahagiaan. Demikian juga dengan guru harus memiliki pondasi
yang kokoh dengan berkesadaran penuh, dengan menerapkan lima komponen sosial
emosional agar siap melakukan pelayanan terhadap siswa secara maksimal dan mendidik
generasi bangsa lebih baik lagi sebagai persembahan terhadap bangsa Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar