Senin, 22 Maret 2021

Koneksi Antar Materi Coaching

 

Koneksi Antar Materi

CGP_Denpasar_ Kadek Yuliantari

Coaching

Coacing merupakan bentuk kemitraan Bersama klien(coacee) yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi pribadi dan fropesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Ada empat komponen dasar seorang coace antara lain:

1.       Ketrampilan membangun dasar proses coacing

2.       Ketrampilan membangun hubungan baik

3.       Ketrampilan berkomunikasi

4.       Kertampilam memfasilitasi pembelajaran

Empat  ketrampilam dasar seorang coace ini yang seharusnya dapat dimiliki oleh guru ketika memerankan diri sebagai coace untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Selain itu seorang coach juga harus memiliki prinsip komunikasi yang baik, karena ada empat dasar utama yang mendasari prinsif komunikasi antara lain: Hubungan saling mempercayai, Mengunakan data yang benar, Bertujuan menuntun para pihak untuk mengoptimalkan potensinya dan merencanakan tindak lanjut atau aksi yang akan dilakukan. Dalam kegiatan coaching seorang coach juga harus memperhatikan empat aspek komunikasi untuk coacing antara lain:

1.       Komunikasi Asertif

Dalam coacing sebagai seorang coace kita akan mengendaki adanya hasil yang dicapai dan ada kalanya coacee kita merasa tidak suka atau merasa ragu bahkan tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. Pemahaman asertif perlu dibangun agar timbul rasa percaya dan aman

2.       Pendengar Aktif

Berilah perhatian penuh pada lawan bicara kita dalam menyampaikan pesan. Dengarkan dengan baik coachee saat berbicara dan tidak memotong pembicaraan  coachee

3.       Bertanya Efektif

Hindari pertanyaan yang dapat menghambat keberhasilan coachee dalam proses coaching.

Pertanyaan yang mengarahkan sehingga siswa kita mampu menjawab sesuai yang diharapkan

4.       Umpan Balik Positif

Coaching bertujuan untuk membangunpotensi yang ada pada coachee dan menginspirasi mereka untuk berpikir kritis

Coacing model TIRTA dibangun dengan semangat merdeka belajar yang dapat menuntun guru untuk memiliki ketrampilan coaching. Hal ini sangat penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk membangkitkan potensi yang ada dalam diri siswa agar mereka dapat berpikir kritis dan menjadi lebih merdeka. Melalui coacing model TIRTA diharapkan seorang guru dapat melakukan praktek coaching dalam komunitas sekolah dengan mudah.

TIRTA

T = Tujuan Utama

I = Identifikasi

R = Rencana Aksi

TA = TAngung jawab

 

Tujuan Utama

Dalam tujuan utama, beberapa hal yangdapat dilakukan coach rancang dan dapat ditanyakan pada coachee adalah:

a.       Apa rencana pertemuan?

b.       Apa tujuannya?

c.       Apa tujuan dari pertemuan ini?

d.       Apa tujuan akhir yang ingin dicapai?

e.       Apa ukuran keberhasilan pertemuan ini?

Identifikasi

Dalam kegiatan identifikasi disini kita menggali apa yang dialami coahee dan apa potensi yang dimiliki coachee. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan pada coachee antara lain:

a.       Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang?

b.       Dari skala 1-10, dimanakah posisi kamu sekarang dalam mencapai tujuan kamu?

c.       Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan?

d.       Peluang/kemungkinan apa yang bias kamu ambil?

e.       Apa hambatan dan ganguna yang dapat menghalangi kamu dalam merai tujuan?

f.        Apa solusinya?

Rancangan Aksi

Dalam kegiatan rancangan aksi ini berkaitan apa tindakan yang dapat diambil seorang cochee untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi agar coachee bias berpikir kritis dalam menghadapi permasalahan yang dialami. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan pada coachee antara lain:

a.       Apa rencanamu dalam mencapai tujuan?

b.       Adalah proiritas?

c.       Ada strategi untuk itu?

d.       Bagaimana jangka waktunya?

e.       Apa yang menjadi ukuran keberhasilan rencana aksi nyata

f.        Bagaimana cara kamu mengantisipasi ganging?

 

Tangung Jawab

Kegiatan untuk tangung jawab seorang coache merupakan tahap akhir untuk membuat, kesimpulan dari sesi soaching. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan pada coachee antara lain:

a.       Apa komitnen kamu terhadap rencana aksi?

b.       Siapa yang dapat dilibatkan membantu kamu dalam menjaga komitmen?

c.       Bagaimana tindak lanjut dari sesi coach?

 

Keterkaitan Coace  dengan pembelajaan berdiferensiasi

Meniliki tujuan yang sama umtuk membangkitkan potensi dalam diri agar dapat berpikir lebih kritis dan menciptakan lingkungan yang merdeka belajar sesuai dengan profil belajar, minat, bakat dan kesiapan belajar dengan mengali potensi yang ada dalam diri siswa. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktek coaching dalam mengali dan membangkitkan potensi yang ada dalam diri komunitas sekolah untuk membangkitkan cara berpikir kritis yang ada didalam diri untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami.

Keterkaitan coaching dengan pembelajaran ketrampilan social emosional

Coaching sangat berkaitan dengan social emosional karena paa saat coaching seorang coach dituntut untuk memiliki  5 kopetensi dasar ketrampilan social emosional yaitu: kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social, ketrampilan social, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkan coachee dalam mengali potensi dalam diri dengan kegiatan rutin yang terintegrasi pada mata pelajaran dan protocol.

Coacing merupakan sebuah kegiatan komunikasi yang bertujuan membantu para coachee dalam mengembangakn potensi yang dimilikinya untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi agar hidunya menyadi lebih efektif. Kemampuan berkomunikasi menjadi kunci dari proses coaching  karena pendekatan dan Teknik yang dilakukan dalam coaching merupakan proses untuk mendorong seorang cochee dalam menemukan jawaban dari dalam dirinya terhadap apa yang menjadi permasalahannya. Cara coacing ini sangat penting bagi seorang guru untuk membangkitkan keyakinan  pada diri seseorang untuk dapat memecahkan setiap permasalahan yang terjadi dan melatih diri untuk berpikir kritis dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.

Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi, ketrampilan sosial emosional dengan coaching model TIRTA sangatlah penting untuk dikuasai dan diterapkan oleh seorang guru dalam memdidik siswa dan ketiganya memiliki kaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada siswa dan membela hak siswa untuk mendapatkan pendidikan yang merdeka belajar, agar dapat tercipta siswa yang memiliki profil pelajar Pancasila.

 

 

Sabtu, 06 Maret 2021

Koneksi Antar Materi 2.2.a.9 - Pembelajaran Sosial dan Emosional

Koneksi Antar Materi 2.2.a.9

CGP_Denpasar_ Kadek Yuliantari

Pembelajaran sosial emosional



        Mengapa pembelajaran sosial emosional sangat penting? Jika kita kembali lihat kebelakang sistem pendidikan kita di Indonesia setelah merdeka tidak mengalami banyak perubahan bisa dikatakan masih jalan ditempat, guru hanya mengajar siswa hanya mengisi otak siswa dengan pembelajaran berupa hapalan untuk mengejar nilai bagus. Sekolah mentarget nilai ujian sekolah yang tinggi dengan mengunakan berbagai cara yang untuk sebuah gengsi. Bisa kita lihat apa yang terjadi dengan generasi muda kita sangat mudah untuk terasut dengan pergaulan yang kurang baik, ikut-ikutan tawuran, ikut dalam aksi demo dan melakukan pengerukakan, meningkatnya kehamilan pada usia remaja. Mengapa ini bisa terjadi? Ini terjadi karena kurangnya pemahaman kita sebagai guru dan orang tua akan pentingnya pendidikan sosial emosional yang harus kita tanamkan pada anak kita sejak dini.

        Pembelajaran sosial emosional adalah proses pembelajaran untuk belajar mengelola emosi, peduli dengan sesama, mengenali emosi yang dialami, membuat sebuah keputusan yang baik, berprilaku yang baik dan bertanggung jawab, serta mengembangkan prilaku yang positif. Pembelajaran  sosial emosional memiliki peranan yang sangatlah penting dalam membentuk karakter seseorang. Pembelajaran sosial emosional sangat penting untuk diterapkan oleh seorang guru dalam mendidik siswa karena guru yang harus memiliki kesadaran penuh untuk bisa memahami dirinya, mengatur emosi, memiliki rasa empati, memiliki kemampuan berinteraksi sosial dan berani mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran sosial emosional juga memiliki fungsi untuk mengajarkan anak-anak ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan anak untuk menjadi pribadi atau individu yang sadar akan dirinya sendiri dan sadar terhadap lingkungan sosial disekitarnya dan mampu melatih siswa mampu membuat keputusan yang kopeten dan bertangung jawab.

Lima komponen pembelajaran sosial emosional antara lain

1.      1. Kesadaran Diri (Pengenalan Emosi)

 


 


 




2.      2.  Pengelolaan Diri (Pengolahan  Emosi dan Fokus)

3.      3. Kesadaran Sosial (Empati)

4.     4. Ketrampilan Sosial (Resiliensi)


5.     5.  Pengambilan Keputusan  yang bertangung Jawab

        Hubungan pembelajaran sosial emosional dengaan pembelajaran sebelunya, dimana pembelajaran sosial emosional puncak atau hasil yang diharapkan dalam pembelajaran sosial emosional ini yaitu wellbeing yaitu konmdisi nyaman , sehat dan kebahagian. Sedangkan Kihajar Dewantara menyatakan bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat”. Jadi bisa dikatakan keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mencapai kebahagiaan agar tercipta generasi yang berkarakter dan menjadi manusia yang seutuhnya (Human Excellent) yang mana kesadaran penuh yang  menjadi dasar atau sebuah tuntunan untuk membangun diri. Sebagai manusia kita beralar untuk mengenal emosi dan megelola emosi, memiliki kesadaran sosial (empati) didalam lingkungan masyarakat , bisa mengelola dan menyelesaikian permasalahan yang dihadapi, berani mengambil keputusan yang bertangung jawab dalam kehidupan dan siap menghadapi tantangan dimasa mendatang.

Pendidikan harus seimbang antara pengetahuan dan spiritual yang dimiliki siswa bagaikan burung yang dapat terbang hanya dengan kedua sayapnya. Begitu juga dalam dunia pendidikan saat ini kita bagaikan membangun sebuah rumah yang mana dasarnya adalah sebuah tuntunan berkedasaran penuh yang harus kokoh, jendela, pintu, tembok, pentilasi, kunci adalah lima komponen pembelajaran sosial emosional dan kodrat anak. Atapnya adalah wellbeing, keselamatan dan kebahagiaan. Demikian juga dengan guru harus memiliki pondasi yang kokoh dengan berkesadaran penuh, dengan menerapkan lima komponen sosial emosional agar siap melakukan pelayanan terhadap siswa secara maksimal dan mendidik generasi bangsa lebih baik lagi sebagai persembahan terhadap bangsa Indonesia.


  Apa Itu Kurikulum?      Kurikulum memiliki kaitan yang sangat erat dengan pembelajaran dan sangat penting kita sebagai pendidik memahami ...